Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2008

Senyum Dalam Bisunya

Hari itu aku bahagia, rencana-rencana yang kususun berjalan sempurna. Dan satu hal yang sangat kusadari, kebahagiaanku ternyata mengantarkan aku pada seorang Resti, gadis remaja kelas dua SMP yang kukenal didalam mobil angkutan umum (baca:angkot). Bukan hanya perkenalan itu yang membuatku terkesan, tapi lebih pada dialog yang kami lakukan.

Aku telah membuat janji dengan salah seorang teman, tempat pertemuan kami cukup jauh sehingga mengharuskan aku untuk bolak-balik naik-turun angkot. Ketika aku masuk dan duduk didalam angkot kedua mataku tertuju pada gadis remaja yang duduk di depanku, ia menyunggingkan senyum sangat manis kepadaku, setelah kuingat-ingat kembali menurutku itulah senyum termanis dari semua senyum yang pernah kudapatkan. Senyumannya sangat tulus, rona keluguanpun tampak jelas diwajahnya, aku sempat berpikir nyaris sempurna nilainya untuk sebuah senyuman.

Selanjutnya aku membalas senyumnya sekaligus menanyakan tujuan, namun aku sangat terkejut ketika dia hanya menggeleng dan menggerakkan tangannya yang mengisyaratkan dia tidak bisa berbicara dan mendengar. Kontan saja seketika aku merasa begitu kerdil, terkadang dengan semua nikmat kelengkapan fisik dan fungsi panca indera yang kumiliki
aku masih berat untuk menghadirkan senyum tulus kepada setiap orang yang kutemui, apalagi disaat
permasalahan terasa begitu membebani sepertinya tekukan di wajah justru bertambah. Alhasil bukan senyum tulus menyejukkan yang tampak, tapi justru wajah sangar yang mungkin menakutkan bagi setiap orang yang ditemui.

Aku memang tidak menguasai bahasa isyarat, namun keinginan untuk berdialog dengannya begitu kuat, maka kusodorkan sebuah pena dan secarik kertas yang kutuliskan kalimat "nama saya detik, nama kamu siapa?" dia menerima kertas dan pena pemberianku dan menuliskan sebaris nama diatasnya, ketika kertas sampai dihadapanku kueja huruf-huruf diatasnya yang tertulis Resti.

Untuk selanjutnya dengan alat bantu kertas dan pena dialog kami semakin panjang, mulai dari umur, tanggal lahir, hingga kondisi keluarganya, bahkan kami sempat bertukar alamat. Berharap suatu waktu ada kesempatan untuk saling mengunjungi. Disetiap jeda percakapan kami aku terus saja memikirkan lebih jauh tentang kehidupan gadis ini. Adakah dia merasa tertekan dengan cacat fisik yang dideritanya? kesulitan-kesulian apa saja yang dihadapinya saat ingin mengungkapkan perasaan dan keinginannya? Rasanya dunia yang jauh sekali dari yang kualami hingga saat ini. Pertanyaan-pertanyaan itu seketika terjawab olehku dengan melihat kepolosan wajah dan ketulusan senyumnya yang seolah mengatakan bahwa bagaimanapun hidupnya harus tetap disyukuri dan dijalani dengan ikhlas, bukankah Allah menjadikan hikmah dibalik setiap kejadian yang dialami hamba-Nya.

Dialog kami harus berakhir ketika angkot yang kutumpangi sudah memasuki kawasan tempat tinggal temanku, aku menuliskan terima kasihku serta betapa aku terkesan dengan perkenalan kami, dan sebaris kalimat terakhir yang dituliskannya adalah "nama kakak indah, cantik..., senang berkenalan dengan kakak…" kalimat itu membuatku bergumam dalam hati "Ah, namamu pun indah Resti..., seindah senyumanmu".


Angkot yang kutumpangi tiba di tempat tujuanku, aku berpamitan pada Resti sambil memberikan senyum terbaikku. Setelah aku turun dan menginjakkan kaki ditanah, pandanganku kembali kedalam angkot, dan sekilas sebelum kendaraan itu berlalu kulihat kembali senyum indah di wajah lugu itu.


~Medio Kebahagiaan Tanpa Sebab~

Kopi Pahit Untuk Seorang Teman

And I don’t want the world to see me
Coz I don’t think that they understand
When everything made to be broken
I Just want you to know who I am
(Iris by Goo Goo Dolls)


Lirik lagu Iris yang dinyanyikan oleh group musik Inggris Goo Goo Dolls tersebut berdentum- dentum di kepalaku saat aku mengingat kembali moment pertemuanku dengan salah seorang teman yang kukenal melalui yahoo messenger. Namanya mengingatkan aku dengan salah seorang anak korban gempa di Sumbar beberapa waktu lalu. Nama yang singkat dan sederhana. Sesederhana kejutan-kejutan kecil yang dimunculkannya.

Perkenalan kami memang belum lama, semua berawal melalui chatting tapi cukup menorehkan kesan indah bagiku untuk selalu berbagi dengannya. Kedekatan yang terkadang kupikir timbul dari kebutuhanku akan figur seorang kakak.


Pernah suatu kali dia membuatku terenyuh, hanya karena sebuah pembicaraan di YM yang bahkan menurutku biasa saja, namun ternyata menimbulkan efek yang sangat berarti baginya. Bahkan dia mengabadikan rasa terima kasihnya padaku dalam bentuk postingan tulisan di salah satu mailing list. Sebuah kejadian dimana hal biasa yang kita lakukan ternyata menjadi akhir luar biasa bagi orang lain.


Di lain waktu dia mengusikku dengan bunyi ponsel ditengah malam sekedar untuk ber “say hello” dan melepas sunyi, yang sebenarnya mungkin tanpa dia sadari justru sangat menghiburku yang kesepian karena sedang mengerjakan pesanan souvenir semalam suntuk.


Kecocokan yang unik terjadi, karena kami sama sekali tidak pernah membicarakan tentang latar belakang keluarga ataupun hal-hal penting yang bersifat pribadi. Seringkali hanya pembicaraan ringan ataupun seputar organisasi yang kami geluti bersama. Sebagaimana Rosianna Silalahi mengatakan seolah ada spektrum karakter baru yang ditawarkan padanya saat berkenalan dengan presiden Iran Ahmadinejad, maka hal seperti itu jugalah yang kurasakan saat mengenalnya.


Agustus kemarin kami bertemu pertama kali, pertemuan kopi darat istilahnya. Dalam sebuah acara di Yogyakarta bulan Agustus lalu. Kebetulan aku sebagai peserta dalam acara tersebut, sedangkan dia memiliki tanggung jawab sebagai moderator di acara keakhwatannya. Tapi terkadang harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan, pertemuan yang seharusnya manis namun berubah pahit hanya karena kesulitanku untuk mengekspresikan rindu dan rasa bahagia bertemu dengannya. Sikapku terkesan kaku, hambar dan seolah menghindar, kontra dengan hati kecilku, aku seolah-olah telah memberikan secangkir kopi pahit padanya, dan aku tahu… diapun kecewa. Kekecewaan tersebut diungkapkan melalui pertemuan maya kami, dan aku hanya mendapatkan sesal meskipun semua itu tertutupi dengan kata maaf.


Namun sampai saat ini aku masih memegang harapan bahwa suatu saat dipertemuan kami selanjutnya aku dapat memberikan secangkir kopi yang manis atau bahkan… segelas Cappuccino untuknya.


For mbak Muthia :
Trims untuk coklat yg selalu terasa manis

Sosok Itu Bernama Andre

Tadi malam saya membuka album-album foto saya, dan pandangan saya tertumbuk pada selembar foto berlatar belakang laut, terlihat empat orang sosok yang sedang tersenyum didalamnya. Dua diantaranya adalah saya dan seorang akhwat teman saya. Namun bukan hanya sekedar keberadaan foto itu saja yang mengusik pikiran saya, tetapi melihat salah satu sosok yang lain di foto itu membuat saya kembali teringat pada kenangan satu tahun yang lalu.


Saat itu saya merasa sekitar saya begitu “crowded”, apakah di kampus, di KAMMI, maupun ditempat kost. Biasanya saya akan menenangkan diri dengan berjalan-jalan sendirian kemanapun yang saya suka, mengunjungi teman-teman lama, dan mengunjungi tempat-tempat yang tidak pernah saya kunjungi. Dan pada hari itu saya memilih untuk berjalan-jalan sendirian ke tepi pantai padang, berusaha untuk kembali mentafakuri nikmat Allah SWT, meskipun sederhana.


Ketika saya sedang duduk dipinggir pantai, terdengar suara gen’jreng’an gitar parau dibelakang saya. Ternyata yang memainkan adalah seorang anak jalanan. Yang setelah kami berkenalan ternyata dia bernama Andre, seorang anak kelas 5 SD dan tinggal di ujung pantai tersebut. Pada akhirnya dia tidak hanya menyanyi di depan saya tetapi juga menghibur saya dengan cerita-cerita kehidupan pribadinya.


Seperti umumnya anak jalanan di kota padang ini, Andre pun masih tinggal bersama orangtua, hanya saja dengan latar belakang keluarga yang “broken home”. Setiap harinya setelah pulang sekolah dia akan ke jalanan sebagai pengamen dengan tujuan untuk mendapatkan uang, orangtuanya memang mendorongnya untuk ke jalanan mencari uang dengan cara seperti itu yang pada akhirnya nanti akan disetorkan kepada orangtuanya dan sebesar tiga ribu rupiah akan diberikan kepadanya setiap harinya, itu juga apabila ‘pekerjaan’nya menghasilkan. Kesan yang saya tangkap saat itu, orangtuanya berlepas tangan dari segala resiko yang bisa saja menimpa anaknya di jalanan.


Saya sendiri akhirnya menikmati sekali perkenalan dengan pria kecil itu, dibalik sikap dewasa yang ditunjukkannya meski tidak sesuai dengan usianya, namun tampak kepolosan tersembunyi, dan tidak dapat dipungkiri dia masih sangat menginginkan bagaimana rasanya bermain dan belajar lepas tanpa adanya tuntutan, yang sebenarnya sudah menjadi haknya. Saat itulah saya merasakan bahwa segala permasalahan-permasalahan saya yang awalnya terasa sangat berat namun menjadi ringan setelah saya mendengar bagaimana kerasnya kehidupan seorang anak bernama Andre. Membuat saya jadi teringat tentang tulisan yang ditujukan seorang sahabat kepada saya tentang bagaimana sebuah persoalan akan terasa ringan apabila kita mendengarkan dan berusaha memecahkan persoalan orang lain.

Selama beberapa hari saya selalu bertemu dia di tempat yang sama, kembali mendengarkan pengalamannya, bermain, ataupun mengajarkan dia lagu-lagu sebagai stock ngamen. Namun disayangkan ketika suatu hari kami berjanji untuk bertemu kembali, ternyata mendadak selama dua minggu penuh saya disibukkan dengan beberapa agenda penting, sehingga saya tidak bisa memenuhi janji saya.


Ketika saya kembali lagi ke tempat itu saya tidak pernah lagi menemukan sosok kecil itu, bahkan hingga saat ini. Sosok yang buat saya telah mengajarkan bagaimana menghargai kehidupan ditengah segala permasalahan dan keterbatasan.

Jazakallah ya ndre…tuk segala hikmah yang didapat

~Ditengah bisingnya klakson bus kota, 1 Agustus 2007~

Simply Dedicated To My Mother

To my mother....
my mother.... and my mother......!
Could I order one small of pieces of land in heaven
beneath your foot?

I miss you mom.....

Rindu..., 28 Juni 2007

Minggu, 13 April 2008

Nasihat Seorang Misterius

Beberapa hari ini saya dikejutkan dengan sms-sms misterius dari seseorang tanpa nama, inisial, atau apapun yang berkaitan dengan identitas, hanya nomor asing yang bisa jadi "free number". Tapi sebenarnya bukan hal itu yang penting buat saya, tapi isi di dalam sms tersebut yang membuat saya tertohok. Nasihat-nasihat yang pedas dan sangat menghujam dalam, awalnya saya sakit hati tapi setelah saya mencoba merenungi lagi tidak patut rasanya apabila saya marah atau kecewa, bukankah dia mencoba mengingatkan saya? Pikiran-pikiran negatif yang muncul justru akan membuat kita tidak bisa berfikir bijak dan cenderung mengedepankan emosi. Biarpun orang yang memberikan sms tersebut dengan cara atau bahasa yang tidak baik, namun hal itu merupakan usaha dia untuk mengingatkan kita bagaimanapun caranya. Saya mencoba berfikir bahwa ini adalah pelajaran buat saya menerima kekurangan orang lain dalam berkomunikasi sekaligus mengajari saya untuk lebih baik dalam berkomunikasi dengan orang lain. Siapapun orang tersebut mudah-mudahan ini justru menjadi proses pendewasaan bagi saya. Dan juga buat dia yang telah mengirim sms, mudah-mudahan Allah SWT memudahkan urusannya dimanapun dia berada.